APAKAH YANG HARUS KAMI PERBUAT? (Apara tu Sipatu la Kipogau’?)

Bahan Khotbah Minggu ke-18, 30 April 2017

APAKAH YANG HARUS KAMI PERBUAT?

(Apara tu Sipatu la Kipogau’?)

 

Mazmur Mazmur 116:1-19
Bacaan 1 Kisah Para Rasul 2:36-40 (BU)
Bacaan 2 1 Petrus 1:13-25
Bacaan 3 Lukas 24:13-35
Nas Persembahan Mazmur 116:17-18
PHB Kisah Para Rasul 2:38

 

Tujuan:

1. Jemaat semakin percaya bahwa kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat

2. Jemaat semakin terdorong menjalani hidupnya sebagai kesempatan untuk merespon pengorbanan Tuhan Yesus

 

Pemahaman Teks

Dalam Mazmur 116:1-19, Pemazmur bertekad memenuhi janjinya yaitu bersyukur kepada Tuhan di depan seluruh umat. Ketika maut mengancamnya, ia bermohon kepada Tuhan. Tuhan mendengar permohonannya sehingga terluput dari segala derita. Pemazmur merespons pertolongan tersebut dengan cara mengangkat piala keselamatannya dan membayar nazarnya yaitu mempersembahkan syukur kepada Tuhan atas kebaikan Tuhan.

Rasul Petrus memberikan nasihat-nasihat etis yang ditujukan kepada orang-orang percaya yang tersebar dibeberapa daerah (1 Petrus 1:13-25). Mereka harus tahu apa yang akan dilakukan untuk memenuhi tuntutan sebagai orang yang telah ditebus dengan darah Yesus Kristus. Harus memelihara hidup kudus karena Allah sendiri adalah kudus. Hidup kudus itu harus diwujudkan melalui hidup yang takut kepada Allah (ayat 14) dan sungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati (ayat 22).

Dua orang murid yang berjalan menuju Emaus (Lukas 24:13-35), setelah peristiwa paskah, adalah gambaran keadaan para murid sampai Tuhan Yesus sudah bangkit. Mereka bingung di tengah kedukaan. Tuhan Yesus, Sang Guru yang mereka andalkan, harus mati secara tragis di atas kayu salib. Kemudian muncul berita bahwa Dia bangkit dari antara orang mati. Ternyata, sebelumnya mereka berharap Tuhan Yesus datang sebagai raja yang secara politis akan membebaskan Israel (Luk.24:21). Semua rentetan peristiwa yang baru saja terjadi, sepertinya telah menggagalkan harapan tersebut. Harapan memiliki raja untuk sebuah pembebasan politis mengalahkan berita yang sangat hebat yaitu berita kebangkitan Tuhan Yesus. Tetapi untunglah, Tuhan Yesus yang telah bangkit itu menjumpai mereka berdua. Dengan penjelasan yang bersumber pada pengajaran Kitab Suci, Tuhan Yesus memaparkan tentang makna kebangkitan-Nya dan segala peristiwa yang menyertainya. Karena perjumpaan itu, mereka berdua mengenal Tuhan Yesus yang telah bangkit. Mereka menceritakan pengalaman perjumpaan dengan Tuhan Yesus kepada murid yang lain.

Tidak ada yang bisa membendung kuasa Tuhan apabila Tuhan mau melakukan rencana-Nya. Kira-kira begitulah gambaran situasi yang dialami para murid Tuhan Yesus. Awalnya, kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib, benar-benar menjadi pukulan yang menyakitkan bagi mereka. Kematian Tuhan Yesus seolah-olah membuat segala harapan mereka sirnah. Namun, semuanya berubah ketika kebangkitan Tuhan Yesus menjadi sebuah fakta. Kematian tidak sanggup menahan Tuhan Yesus di dalam alam maut. Tuhan Yesus bangkit dari antara orang mati. Semua nubuatan nabi tergenapi.

Kebangkitan Tuhan Yesus menjadi sangat penting artinya bagi para murid. Kebangkitan Tuhan Yesus menghidupkan kembali harapan dan semangat yang pernah hampir pudar, menghilangkan dukacita yang membalut hati mereka, melenyapkan ketakutan dan menggantikannya dengan keberanian yang menyala-nyala. Allah telah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar di dalam Yesus Kristus. Itulah berita suka cita (Injil) yang dianugerahkan kepada dunia ini. Karena itu, Tuhan Yesus mengutus para murid-Nya untuk pergi memberitakan Injil itu. Namun, sebelum mereka pergi, Tuhan Yesus menjanjikan Roh Kudus kepada Mereka. Mereka diperintahkan untuk tetap tinggal di Yerusalam sampai janji tersebut digenapi. Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Roh Kudus turun atas mereka bertepatan dengan perayaan hari raya Pentakosta. Roh Kudus memberikan kuasa dan keberanian kepada para murid menjadi pemberita Injil.

Perikop Kisah Para Rasul 2:36-40 adalah bagian dari khotbah Petrus pada saat peristiwa pencurahan Roh Kudus. Roh Kudus telah memberikan kemampuan kepada para murid untuk menyampaikan berita Injil menggunakan bahasa bangsa-bangsa lain yang hadir di Yerusalem pada saat itu. Namun, ada beragam respons orang setelah mendengar para murid dapat berkata-kata dalam bahasa lain. Ada yang bingung (ay.6). Ada yang tercengang-cengang (ay.7-12). Ada pula yang menganggap para murid sedang mabuk (ay.13). Untuk menjawab respons itulah, Petrus berdiri menyampaikan khotbah. Ia memulai khotbahnya dengan membantah anggapan bahwa para murid sedang mabuk (ay.15). Kemampuan para rasul berkata-kata dalam bahasa bangsa-bangsa lain adalah pekerjaan Roh Kudus. Jauh sebelumnya sudah dinubuatkan oleh nabi Yoel (ay.14-19). Roh Kudus yang dicurahkan, menjadikan manusia dapat melihat hal-hal yang diberitahukan oleh Allah. Allah memperuntukkan anugerah-Nya kepada manusia tanpa membeda-bedakan. Siapa saja yang berseru kepada Allah akan diselamatkan (ay.20-21).

Kemudian Petrus bebicara tentang penyaliban dan kebangkitan Tuhan Yesus (ay.21-35). Yesus dari Nazaret telah ditentukan Allah sebagai Mesias yang dinantikan orang Yahudi. Sebagai Mesias yang dinantikan, dapat dibuktikan melalui kekuatan-kekuatan, mujizat-mujizat dan segala tanda-tanda yang dilakukan selama Dia hidup. Walaupun Dia sudah ditentukan Allah, namun Petrus menegur dengan keras orang Yahudi yang telah menyerahkan Sang Mesias ke tangan bangsa durhaka untuk disalibkan dan membunuhnya. Orang Yahudi ikut bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Khotbah Petrus menegur dengan sangat keras bangsa Yahudi yang telah menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Ini suatu keberanian yang luar biasa. Padahal, sebelumnya Petrus pernah menjadi sangat pengecut dengan menyangkal Tuhan Yesus, sampai tiga kali. Namun, kini dengan lantang dan penuh keberanian menegur dosa orang Yahudi sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian Tuhan Yesus. Kebangkitan Tuhan Yesus dan puncaknya ketika menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta, menjadi titik balik dalam diri Petrus untuk tampil dengan penuh keberanian menjadi pemberita Injil Yesus Kristus.

Khotbah Petrus diakhiri dengan sebuah kalimat kesimpulan sekaligus mengandung ajakan yaitu bahwa seluruh kaum Israel harus tahu bahwa Allah telah membuat Yesus sebagai Tuhan dan Kristus (ay.36). Pernyataan ini tidak mengandung pengertian bahwa seolah-olah sebelumnya Yesus bukan Tuhan dan Kristus. Tentu saja status sebagai Tuhan pada diri Yesus itu sifatnya kekal. Dari dulu, sekarang dan selama-lamanya Dia adalah Tuhan (bnd. Yoh.1:1-3). Kebangkitan Yesus dari antara orang mati, menjadi petunjuk yang sangat jelas bahwa Dia adalah Tuhan dan Kristus.

Ternyata, orang-orang Yahudi yang mendengarkan khotbah Petrus segera bereaksi. Khotbah Petrus membuat para pendengarnya menyadari dosa mereka. Hati mereka sangat terharu (ay.37). Alkitab terjemahan Bahasa Indonesia Sederhana (BIS) mengatakan hati mereka sangat gelisah. Ada juga yang menerjemahkannya menjadi “hati mereka tertusuk”. Kesadaran akan dosa membuat hati mereka tertusuk, teriris-iris, sedih dan gelisah. Kegelisahan hati itu diungkap dalam sebuah pertanyaan: Apa yang harus kami perbuat? Solusi yang dianjurkan Petrus bagi kegelisahan hati mereka ialah: bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus (ayat 38). Seberat apapun dosa yang telah mereka perbuat kepada Sang Mesias, tetapi dari pihak Allah tetap menawarkan pengampunan. Karena itu, mereka harus bertobat dan memberi diri dibaptiskan dalam nama Yesus Kristus untuk memperoleh pengampunan tersebut.

 

Pokok-pokok yang dapat dikembangkan

Pertama, Khotbah yang berani menegur dosa, Roh Kudus memenuhi Petrus sehingga dengan berani segera tampil sebagai pemberita Injil. Ia menyampaikan khotbah di hadapan orang-orang Yahudi yang sebelumnya sangat membenci Yesus. Dengan penuh keberanian, Petrus menuding orang Yahudi sebagai orang berdosa karena telah menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Yesus adalah Sang Mesias yang sudah lama dinantikan bangsa Yahudi, justru diserahkan ke tangan bangsa durhaka dan dibunuh secara keji. Memang khotbah harus selalu berani menegur dosa. Pernah seseorang berkata “bagi kamu para pengkhotbah, sampaikan saja yang baik-baik dari mimbar. Jangan menyinggung soal judi. Biarkan itu menjadi urusan pribadi kami dengan Tuhan.” Bagaimana mungkin khotbah hanya menjadi sekedar hiburan bagi pendengar telinga (Dalam Bahasa Toraja: ringngan-ringngan talingabangri). Khotbah tidak bisa menjadi sebuah pesanan dari orang-orang tertentu. Mungkin mereka menginginkan sebuah khotbah yang muatannya sama seperti hiburan komedi di televisi. Harus membuat pendengar tertawa sampai perut sakit. Khotbah tidak boleh sekerdil itu. Khotbah bukan hanya menyoal pengharapan dunia akhirat, tetapi juga harus menyoroti segala praktek hidup pada saman sekarang ini, di sini. Segala kebobrokan karena dosa harus disoroti demi hidup yang semakin berkualitas sebagai orang percaya.

Kedua, Hati yang tersentuh oleh Firman Tuhan, Teguran dalam khotbah Petrus membuat hati pendengarnya, yaitu orang-orang Yahudi, tersentuh. Khotbah Petrus membuat mereka sadar bahwa mereka telah berdosa karena menyerahkan Yesus Kristus untuk disalibkan. Tidak ditemukan adanya tanda-tanda bantahan dari orang-orang Yahudi. Tidak ada ungkapan pembelaan untuk membenarkan diri. Mereka membuka diri menerima teguran. Dalam keterbukaan itu, mereka menyadari dosa yang telah mereka lakukan. Itu sebabnya timbul penyesalan dalam hati mereka. Karena penyesalan, mereka diliputi kesedihan. Hati bagaikan teriris-iris sehingga mereka gelisah dan menanyakan apa yang harus dilakukan. Biasanya ketika seseorang mendengar khotbah yang menegur dosa, memang hati orang tersebut tersentuh. Namun, bukannya menyadari dosa-dosanya, justru merasa diadili. Bukan menyesal, tetapi tersinggung dan marah. Dalam kondisi marah, bukannya bertanya apa yang harus dilakukan, justru tidak lagi mau melakukan apa-apa. Timbullah sungut-sungut dan biasanya berakhir dengan ngambek (Bahasa Toraja: Kaberu’ atau peccu’. Kemudian dipelintir menjadi To Efesus. E…peccu’). Sikap seperti itu sangat merugikan. Biasanya malah menjadi cikal-bakal perpecahan. Banyak jemaat yang pecah berawal dari ketersinggungan dalam khotbah karena tidak mau menyadari dosanya. Apa jadinya kalau jemaat kita dibangun atas dasar dosa kekerasan hati? Tentu tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik diharapkan akan terjadi.

Ketiga, Bertobat dan memberi diri dibaptis. Khotbah yang baik bukan hanya menegur atau menelanjangi dosa, tetapi terutama harus memberitakan pengampunan dari Tuhan. Seberat bagaimanapun dosa tidak menjadi soal. Yang menjadi soal adalah maukah menyadari dosa itu dan bertobat. Petrus menunjukkan letak keberdosaan orang Yahudi. Mereka juga sudah menyadarinya sehingga hati mereka menjadi gelisah. Apakah yang harus mereka lakukan selanjutnya? Jawaban Petrus adalah bahwa mereka harus bertobat dan memberi diri dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Ketika mereka bertobat dan memberi diri dibaptis, terbentuklah sebuah persekutuan yang sangat besar. Jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa (ay.42).

Tidak cukup hanya dengan hati yang menyesal. Harus ada langkah yang nyata untuk kembali kepada jalan yang seharusnya. Penyesalan harus diikuti oleh pertobatan dan menggabungkan diri ke dalam karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus. Ada cerita tentang orang yang katanya sudah bertobat. Konon dia sudah meninggalkan semua kebiasaan masa lalu yang buruk. Tidak lagi merokok, tidak lagi mabuk-mabukan, tidak lagi main judi, tidak lagi main perempuan, Tetapi juga tidak pernah lagi ke gereja. Memang sudah berubah. Tetapi perubahannya berakhir tanpa berjalan menuju kebenaran yaitu Firman Tuhan. Itu bukan pertobatan sejati. Tujuan akhir hidup kita adalah kembali kepada Sang Pemilik kehidupan. Dia telah mengaruniakan kehidupan itu dengan jalan yang tidak lasim yaitu memberikan nyawa Anak Tunggal-Nya.

Kategori Artikel

  • ReHaT

    Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja

  • Khotbah

    Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja

  • Laporan Kegiatan

    Laporan dan Rangkuman pelaksanaan kegiatan dan program kerja dari Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja

  • Humor Rohani

    Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber

  • Ilustrasi

    Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber

  • Teologi

    Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia

  • Literatur Digital

    Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.

  • Informasi Umum

    Memuat Informasi-informasi Umum dari BPS Gereja Toraja

  • Membangun Jemaat

    Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja