Bahan Khotbah Minggu Ke-2 Tanggal 14 Januari 2018 TUHAN MERANCANG TUJUAN HIDUP UMATNYA (Puang Ullampak Patunna Katuoanna Taun-Na)

Bahan Khotbah Minggu Ke-2 Tanggal 14 Januari 2018

TUHAN MERANCANG TUJUAN HIDUP UMATNYA

(Puang Ullampak Patunna Katuoanna Taun-Na)

Bacaan Mazmur : Mazmur 139:1-6
Bacaan 1   : 1 Samuel 3:1-10
Bacaan 2   : 1 Korintus 6:12-20 (Bahan Utama)
Bacaan 3 : Yohanes 1:43-51
Nas Persembahan   : 1 Korintus 6:12
Petunjuk Hidup Baru : Mazmur 139:2 dan 4

Tujuan:

1.Jemaat mengimani  bahwa  Kristus mengenal tujuan hidup umat-Nya.

2.Jemaat berusaha makin mengenal tujuan Allah atas hidupnya.

Pemahaman Teks

Mazmur 139:1-6 mengungkapan pengakuan pemazmur mengenai kemahatahuan Allah. Pengakuan pemazmur ini merupakan pengajaran yang agung bagi siapa pun. Allah yang menciptakan kita adalah Allah yang sempurna mengenal siapa kita dan untuk apa Ia menciptakan kita. Di hadapan-Nya tidak ada yang tersembunyi. Semuanya telanjang dan terbuka di hadapn-Nya. Tidak satu pun tindakan dan pikiran manusia yang luput dari pantauan-Nya. Oleh karena itu, pemazmur mengakui dengan jujur di hadapan  Allah bahwa seluruh keberadaannya tidak luput dari pantauan Allah. Allah mengetahui seluruh aktivitas kesehariannya. Allah mengerti pikiranya dari jauh bahkan sebelum ia mengatakannya Allah pun sudah mengetahuinya. Singkatnya Allah begitu mengenal pribadi pemazmur lebih dari pemazmur mengenal dirinya sendiri. Pengetahuan seperti inilah yang membuatnya makin kagum akan kemahakuasaan dan kemahatahuan Allah yang tidak sanggup diraihnya.

1 Samuel 3:1-10 menceriterakan bagaimana Samuel yang melayani Allah di bawah bimbingan Imam Eli ketika memperoleh panggilan dari Allah. Panggilan itu datang kepadanya saat Samuel sudah tidur. Ketika ada suara memanggil namanya, ia mengira Imam Eli yang memanggilnya. Karena itu, ia datang kepada Imam Eli namun Imam Eli  menyatakan bahwa Ia tidak memanggil Samuel. Panggilan itu berlangsung tiga kali baru Imam Eli menyadari bahwa panggilan itu berasal dari Allah sendiri sehingga ia memberi tahu Samuel agar ia menjawab bahwa, “Berbicaralah sebab hamba-Mu ini mendengar.” Sekalipun Samuel belum mengenal Allah dan belum pernah Allah menyatakan diri kepadanya tetapi jauh sebelumnya Allah sudah mempersiapkan dia untuk menjadi nabi Allah. Allah lebih dahulu merancang panggilan-Nya terhadap Samuel sebelum ia dilahirkan.

Yohanes 1:43-51 menarasikan bagaimana pertemuan Natanael dengan Yesus. Perjumpaan itu menjadi kesempatan bagi Yesus untuk meyakinkan Natanael akan diri-Nya karena ia tidak percaya bahwa ada yang baik dari Nasaret. Pada saat itu Yesus menyebut Natanael sebagai seorang Israel sejati tanpa kepalsuan. Pernyataan Yesus itu membuat pernyataan bahwa Yesus adalah Rabi, Anak Allah dan Raja orang Israel. Yesus pun menyatakan bahwa karena kepercayaannya Natanael akan melihat hal-hal yang lebih besar lagi mengenai Yesus. Perikop ini menggambarkan bagaimana kemahatahuan Yesus dinyatakan terhadap Natanael. Juga bagaimana Natanael  akan dibukakan hal-hal yang luar biasa dari Allah.

1 Korintus 6:12-20 uraian Paulus pada perikop ini merupakan salah satu jawaban terhadap berbagai masalah yang dialami oleh jemaat di Korintus berdasarkan laporan dari keluarga Kloe (1:11). Termasuk paham dikotomi mengenai tubuh dan roh. Hanya roh yang dianggap penting dan tubuh tidak penting. Oleh karena itu tidak apa-apa diserahkan kepada percabulan. Atas dasar itulah Paulus menasehati mereka agar menjauhi percabulan. Tubuh mereka yang telah ditebus oleh Yesus bukan untuk percabulan melainkan untuk Tuhan. Tubuh mereka adalah anggota tubuh Kristus. Tubuh mereka adalah bait Roh Kudus. Lebih dari itu mereka harus mengingat bahwa mereka telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Oleh karena itu, mereka harus memuliakan Allah seutuhnya. Tujuan mereka ditebus, dibeli oleh Allah agar mereka menjadi bait Roh Kudus. Dengan demikian mereka harus mempergunakan tubuh mereka untuk memuliakan Allah dan bukan sebaliknya menyerahkan atau mengikatkan diri mereka kepada percabulan melainkan hanya kepada Allah yang telah menebus mereka dari dosa di dalam Yesus Kristus.

Korelasi: Allah adalah Allah yang maha tahu. Ia mengetahui segala sesuatu. Ia mengetahui pribadi setiap orang yang ada di dunia ini. Tidak seorang pun luput dari pantauan-Nya. Ia punya rencana dan tujuan terhadap dunia ini. Ia punya rencana yang agung terhadap setiap orang yang percaya kepada-Nya. Oleh karena itu, setiap orang percaya yang telah dipilih-Nya harus menjauhi pola hidup yang tidak memuliakan Allah seperti percabulan. Tujuan hidup umat-Nya ialah memuliakan Dia.

 

Pokok-pokok yang dapat dikembangkan.

Tujuan merupakan hal penting dan sangat menentukan keberadaan  sebuah lembaga apapun di dunia ini. Lembaga yang tidak memiliki tujuan (visi-misi) yang tidak jelas lambat laun akan pudar dan akhirnya tinggal kenangan belaka. Manusia sebagai makhluk yang dihadirkan Allah di muka bumi ini pun tidak luput dengan sebuah tujuan penjadian-Nya. Itulah sebabnya manusia dicipta menurut peta dan teladan Allah berbeda dengan ciptaaan lainnya. Penciptaan manusia menurut peta dan teladan Allah mengandung tujuan yang sangat mulia. Manusia akan diberi otoritas mewakili Allah dalam mengelola bumi dengan segala isinya yang juga diciptakan Allah. Namun Alkitab mencatat bahwa manusia yang telah diciptakan oleh Allah dengan tujuan yang agung itu menyalahgunakan kepercayaan yang Allah anugerahkan dan amanatkan kepadanya. Manusia malah memberontak dan ingin sama dengan Allah. Manusia lupa untuk apa ia dicipta seturut gambar dan rupa Allah.

Kondisi pemberontakan ini kerapkali disebut kejatuhan ke dalam dosa. Dosa yang makin terus menguasai dan mengendalikan manusia sehingga makin lupa akan keberadaannya dihadirkan oleh Allah di muka bumi ini. Munusia yang diperbudak dosa akhirnya menjalani hidupnya menurut tuntutan dosa bukan lagi menurut tuntutan Allah. Manusia tidak lagi menjadi hamba Allah melainkan menjadi hamba dosa. Akibatnya, alam yang dipercayakan oleh Allah pun tidak dikelola sesuai dengan maksud Allah sebelumnya. Relasi manusia dengan Allah yang tidak harmonis karena dosa berdampak bagi sesamanya dan seluruh alam semesta ciptaan Allah. Dengan demikian manusia sering kali melupakan tujuan hidupnya diciptakan oleh Allah. Manusia yang tidak mengenal untuk apa Allah menghadirkannya di dunia ini akan menjalani keberadaannya hidup apa adanya. Ia bagaikan kapal yang berlayar tanpa arah sehingga terombang-ambing ke mana arus membawanya. Akibatnya bisa saja tenggelam atau berlabuh di mana saja.

Oleh kemurahan Allah sendirilah sehingga Allah pun berinisiatif memulihkan hubungannya dengan manusia melalui karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib. Pemulihan oleh Allah inilah yang menjadi pintu atau jalan keluar kembali bagi manusia untuk menemukan tujuan Allah menciptakannya. Manusia yang menyadari bahwa ia adalah orang berdosa dan membutuhkan karya Allah dalam Kristus yang akan dipulihkan Allah. Manusia yang telah dipulihkan ini akan perlahan melalui tuntunan Tuhan sendiri melalui karya Roh Kudus yang terus menerus membaharui akan makin mengenal maksud dan rencana Allah menciptakannya atau menebusnya kembali.

Jemaat Korintus rupanya  juga mengalami gagal paham akan  tujuan Allah menebus dan memilih mereka sebagai umat Allah. Itulah sebabnya dari sekian masalah yang mereka hadapi sebagai umat Allah maka salah satu hal yang cukup pelik dalam 1 Korintus 6:12-20 ialah  masalah percabulan. Mereka memiliki pandangan akan adanya dualisme tubuh dan roh, di mana roh yang penting dan baik sedangkan tubuh yang sepele dan jahat. Mereka mengangap bahwa tubuh itu tidak rohani maka kegiatan tubuh apa saja tidak bermakna. Kebebasan mereka terhadap percabulan merupakan sikap yang tidak bertanggungjawab sebagai orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Kondisi Jemaat Korintus yang demikian itulah yang mendorong Paulus menasehati mereka melalui suratnya agar menjauhi percabulan. Orang Korintus harus menguasai diri mereka sama seperti Paulus menguasai diri mereka sehingga tidak mudah diperhamba oleh apapun (ayat  12). Mereka tidak boleh beranggapan bahwa seperti rasa lapar akan makanan dapat membuat mereka memuaskan keinginan mereka dengan makan apa saja, atau ketika muncul hasrat seks maka mereka pun dengan bebas memuaskannya kepada orang-orang di sekitar mereka.

 Paulus menegaskan bahwa tubuh mereka telah ditebus oleh Yesus  Kristus. Tubuh mereka adalah anggota tubuh Kristus (ayat  15).  Sebab itu seyogianya tidak dipergunakan untuk aktivitas seks yang menyimpang seperti percabulan.Tubuh mereka yang telah ditebus dan dikuduskan oleh Kristus yang memungkinkan mereka di diami oleh Roh Kudus. Lebih dari itu mereka harus menyadari bahwa hidup mereka telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Oleh karena itu, mereka harus memuliakan Allah seutuhnya termasuk dengan tubuh mereka. Dengan demikian mereka harus mempergunakan tubuh mereka untuk memuliakan Allah dan bukan sebaliknya menyerahkan diri mereka kepada percabulan melainkan hanya kepada Allah yang telah menebus mereka dari dosa di dalam Yesus Kristus. Keselamatan itu merupakan penyelamatan jiwa maupun tubuh. Dengan pengharapan itulah maka perlu ada motivasi yang kuat bagi setiap orang percaya untuk bertekun dan berjuang dalam jerih payah (pasal 15:58).

Penerapan

Setiap orang percaya harus menyadari bahwa dahulu mereka memang berdosa, tetapi sekarang mereka telah ditebus dan dikuduskan bahkan telah dibenarkan oleh Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Implikasi dari penebusan Yesus Kristus tersebut menantang setiap orang percaya untuk tidak hidup lagi dalam tindakan berdosa. Mereka tidak boleh hidup lagi secara bebas menurut pola hidup dunia yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Orang Kristen sejati harus menyadari tujuan Allah menebus dan memilih mereka sebagai umat Allah, yakni untuk memuliakan Allah (ayat  20). Mereka tidak boleh diperhamba oleh apapun termasuk seks. Mereka harus menyadari bahwa mereka adalah hamba Allah.  Mereka telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar oleh Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Oleh karena itu tujuan hidup satu-satunya ialah memuliakan Allah dalam seluruh keberadaanya.

Kategori Artikel

  • ReHaT

    Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja

  • Khotbah

    Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja

  • Laporan Kegiatan

    Laporan dan Rangkuman pelaksanaan kegiatan dan program kerja dari Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja

  • Humor Rohani

    Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber

  • Ilustrasi

    Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber

  • Teologi

    Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia

  • Literatur Digital

    Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.

  • Informasi Umum

    Memuat Informasi-informasi Umum dari BPS Gereja Toraja

  • Membangun Jemaat

    Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja