BERSUKACITA KARENA MEMANDANG PADA TUHAN YANG BANGKIT (Parannu belanna tu’tun lulako kamalimbangunanNa Puang)

Bahan Khotbah Minggu ke 17, 23 April 2017

BERSUKACITA KARENA MEMANDANG

PADA TUHAN YANG BANGKIT

(Parannu belanna tu’tun lulako kamalimbangunanNa Puang)

 

Mazmur Mazmur 16:1-11
Bacaan 1 Kisah Para Rasul 2:14a, dan ayat 22-32
Bacaan 2 1 Petrus 1:3-9
Bacaan 3 Yohanes 20:19-31 (Bahan Utama)
Nas Persembahan Matius 5:24
PHB 2 Korintus 13:11

 

Tujuan:

1.Jemaat memahami dan meyakini bahwa Kristus sungguh telah bangkit

2.Jemaat berpengharapan dalam hidup, walaupun menghadapi berbagai pencobaan.

 

Pemahaman teks:

Keempat bagian Alkitab yang dibaca di atas, semuanya mengungkapkan kesukacitaan karena memandang/melihat Tuhan, baik secara langsung (dengan mata), maupun secara iman (di dalam penglihatan). Daud dalam Mazmur 16:1-11, khususnya ayat 8-9, mengungkapkan bahwa dengan “senantiasa memandang kepada TUHAN; .. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram.” Hal itu terjadi pula karena Daud “… telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan” (Kisah Para Rasul 2, khususnya ayat 31).

Suasana sukacita juga meliputi murid-murid, termasuk Thomas, setelah dengan mata kepala sendiri mereka melihat/berjumpa dengan Yesus yang telah bangkit. Betapa tidak, sebelum mereka bertemu dengan Yesus, mereka diliputi oleh situasi dan perasaan mencekam bercampur kesedihan. Ada ketakutan yang amat sangat terhadap orang-orang Yahudi (Yohanes 20:19), kaum sebangsanya sendiri. Bayangkanlah, sanak-saudara dan kaum sebangsa yang dengannya setiap orang dapat mengalami ketenangan, justru telah menjadi alamat ketakutan mereka. Jika terhadap kaum sebangsa sendiri telah takut, apalagi terhadap bangsa lain. Ketakutan tersebut sangat beralasan: kalau Yesus-guru mereka sendiri telah disiksa dan dibunuh sedemikian rupa, maka hal seperti sangat mungkin terjadi pada mereka. Itu sebabnya mereka bersembunyi dan mengunci diri dalam suatu ruangan. Ketakutan, kepanikan dan kekuatiran menghantui mereka, tetapi mereka juga dirundung kesedihan yang amat dalam karena kehilangan guru mereka. Semua itu membuat mereka kehilangan damai sejahtera. Sebab itu, Yesus datang dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu !” Kenapa Damai Sejahtera? Karena memang itulah yang mereka (dan dunia) butuhkan. Tersirat dalam perkataan ini suatu makna bahwa damai sejahtera itu hanya berasal dari Allah. Ia, dan hanya Ia sajalah sumber damai sejahtera. Siapa yang berada dalam Dia, ia akan mengalami damai sejahtera. Dalam pengertian inilah perkataan Rasul Petrus, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan” (1 Petrus 3:6), dapat dipahami.

Kehadiran Kristus dengan damai sejahtera-Nya membuat Tomas tidak ragu lagi hingga ia berseru, “Tuhanku dan Allahku!” Seruan Tomas sekaligus merupakan pernyataan iman bahwa perjumpaan dengan Yesus sekaligus merupakan perjumpaan dengan Allah Yang Maha Tinggi yang mengutus Yesus ke dunia ini (bnd. Yohanes 8:19; 14:7,9-11). Pengakuan Tomas sangat bermakna bagi setiap orang yang hidup kemudian dari padanya. Perkataan Yesus, “Karena engkau melihat aku maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yohanes 20:29) ditujukan kepada Tomas, namun pesannya bergema melintasi waktu dan zaman. Perkataan itu menjadi kekuatan dan penghiburan bagi mereka yang hidup dan percaya kepada Allah.

Raja Daud sendiri, yang hidup jauh sebelum kedatangan Kristus telah beroleh kekuatan dan sukacita karena telah memandang (melihat dengan iman) kepada Kristus. Ia mampu memandang kepada Kristus melintasi waktu. Ia tidak “menundukkan” kepala di hadapan kenyataan dan kenikmatan dunia, tetapi ia mengangkat kepala memandang pada Kristus.

 

Pokok pikiran Yang Dapat dikembangkan
  1. Kita semua tidak pernah melihat Yesus dengan mata kepala kita, baik pelayanan maupun penampakan setelah kebangkitan-Nya. Apakah kita percaya Ia adalah Tuhan dan Allah kita? Apakah kepercayaan itu membuat kita berbahagia sama seperti murid-murid-Nya?
  2. Secara umum manusia (merasa) akan berbahagia apabila kebutuhan hidupnya telah terpenuhi. Psikolog ternama dari Amerika, Abraham Maslow, berdasarkan penelitiannya telah menyusun piramida hierarki kebutuhan manusia, yang urutannya dari dasar sampai puncak adalah: kebutuhan fisik, kebutuhan akan keamanan, kebutuhan sosial, akan penghargaan, dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Secara empiris, teori Maslow benar. Berdasarkan teori itu, kita akhirnya menyadari bahwa sukacita merupakan barang langka dalam hidup manusia. Untuk kebutuhan fisik/dasar saja (seperti: air, makanan, kesehatan, tidur, sex) manusia sulit memenuhinya, apalagi kebutuhan keamanan dan kenyamanan dan selanjutnya hingga kebutuhan aktualisasi diri. Namun demikian, hukum kebutuhan dari Maslow jelas-jelas bersifat anomali ketika ditempatkan dalam konteks perjumpaan para murid dengan Yesus yang telah bangkit. Kebutuhan fisik, keamanan, sosial, dan penghargaan pada para murid jelas tidak terpenuhi; namun kebutuhan aktualisasi diri mereka, yakni hidup dari-oleh dan untuk Kristus bagi sesama, terpenuhi. Hal itu membuat mereka menjalani hidup dengan bersukacita. Tentu saja tidak berarti bahwa di dalam Kristus manusia tidak lagi membutuhkan kebutuhan level 1 hingga 4 atau 5 dalam skala Maslow. Orang Kristen tetap membutuhkan semua itu. Namun demikian, kebahagiaan seorang Kristen tidak tergantung pada semua itu. Yang utama dan pertama ialah Kristus (bnd. Matius 6:33).
  3. Sukacita yang sejati hanya berasal dari sumber sukacita itu sendiri, yaitu Yesus Kristus. Di dalam dan melalui Dia kabar sukacita sejak awal diberitakan kepada semua bangsa (Lukas 2:10); melalui hidup dan karya-Nya ia menghadirkan sukacita (Yohanes 15:11); pada akhirnya, Ia akan menyambut dan memberikan kepada umat-Nya sukacita (Matius 25:23). Dengan mengarahkan mata hati/iman kepada-Nya, manusia akan menerima dan mengalami sukacita.
  4. Perjumpaan dan kehadiran Tuhan dalam hidup seseorang akan membuatnya mengalami Damai sejahtera yang merupakan pangkal dari kesukacitaan.

 

Renungan:

Blaise Pascal adalah jenius matematika Prancis yang mati pada tahun 1662. Setelah lari dari Allah sampai ia berusia 31 tahun, maka pada tanggal 23 November 1654, pukul 22.30, Pascal bertemu dengan Allah dan bertobat secara mendalam dan tak tergoyahkan kepada Yesus Kristus. Ia menuliskan pengalaman perjumpaannya dengan Yesus itu pada sepotong perkamen dan menjahitnya ke dalam jubahnya. Tulisan itu ditemukan delapan tahun kemudian setelah kematiannya. Di situ tertulis, “Tahun anugerah, Senin tanggal 23 November 1654,... dari sekitar 10.30 malam sampai tengah malam lewat setengah jam, ... Kepastian, sukacita terasa di hati, damai... Yesus Kristus. Yesus Kristus. Kiranya saya tidak pernah dipisahkan dari-Nya.” Pascal pula yang pernah menulis, “There is a God shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus” (Ada sebentuk rongga Ilahi yang tidak akan pernah bisa diisi oleh siapapun atau apapun, kecuali oleh Tuhan, melalui Yesus). Jika rongga tersebut telah berisi Yesus, maka orang akan bersukacita.

Kategori Artikel

  • ReHaT

    Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja

  • Khotbah

    Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja

  • Laporan Kegiatan

    Laporan dan Rangkuman pelaksanaan kegiatan dan program kerja dari Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja

  • Humor Rohani

    Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber

  • Ilustrasi

    Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber

  • Teologi

    Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia

  • Literatur Digital

    Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.

  • Informasi Umum

    Memuat Informasi-informasi Umum dari BPS Gereja Toraja

  • Membangun Jemaat

    Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja