PASKAH: MOMENTUM KEMBALI DARI EMAUS MENUJU YERUSALEM Paskah: Tibalik dio mai Emaus anna sule lako Yerusalem”

Bahan Khotbah Minggu ke-16 (Paskah), 16 April 2017 

PASKAH: MOMENTUM KEMBALI

DARI EMAUS MENUJU YERUSALEM

Paskah: Tibalik dio mai Emaus anna sule lako Yerusalem”

 

Mazmur Mazmur 114:1-8
Bacaan 1 Yesaya 25:6-9
Bacaan 2 1 Korintus 5:6b-8
Bacaan 3 Lukas 24:13-49 (Bahan Utama)
Nas Persembahan Roma 12:1
PHB Roma 13:13

 

Tujuan:

1.       Jemaat mengenal karya ajaib Allah yang telah membebaskan umat-Nya.

2.       Jemaat merayakan pembebasan Allah itu melalui tindakan pertobatan.

 

Pemahaman Teks

Keempat bacaan ini bertutur tentang perayaan atas kedahsayatan karya Allah yang memberikan kemenangan dan pembebasan bagi umat-Nya pada masa dan konteksnya masing-masing, baik pada masa Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Sebagai satu kesatuan berita, Kehadiran Allah sebagai Pembebas umat-Nya sejak zaman Perjanjjian Lama hingga Perjanjian Baru menunjukkan konsistensi kepedulian dan keberpihakan Allah terhadap umat-Nya. Hal ini merupakan kekuatan dan jaminan bahwa Allah akan tetap dan selalu hadir membebaskan umat-Nya.

Mazmur 114:1-8, memuat pelajaran dari sejarah bagaimana merayakan pembebasan Allah. Mazmur ini menyajikan memori indah yang membawa orang Israel “bernostalgia” mengenang seluruh keajaiban yang dikerjakan Allah kala membawa Israel keluar dari Mesir. Kisah ini dikenang, dirayakan dan dikobarkan umat Israel sebagai sumber kekuatan menatap masa depan.

Yesaya 25:6-9, menyajikan visi tentang penggenapan suasana pesta perayaan kemenangan. Bagian ini menampilkan nubuatan Yesaya tentang kemeriahan suasana perayaan kemenangan yang digambarkan sebagai sebuah pesta perjamuan. Ungkapan “anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, dikoyakkannya kain perkabungan, tiada lagi maut dan air mata, serta aib” memberikan gambaran betapa nikmatnya kehidupan yang akan dialami oleh umat Allah ketika Allah menggenapi karya pembebasan-Nya.

1 Korintus 5:6b-8, menunjukkan bagaimana hidup dalam pembebasan. Bacaan ini memberikan peringatan untuk menghindarkan “makanan” yang “ber-ragi” dalam pesta perayaan kemenangan Kristus. Makanan ber-ragi yang dimaksudkan di sini menunjuk pada sifat-sifat buruk dan jahat. Dalam hal ini, meninggalkan keburukan dan kejahatan adalah suatu hal yang selayaknya dilakukan oleh mereka yang telah dibebaskan dari perbudakan dosa oleh karya Kristus.

Lukas 24:13-49, menampilkan sosok Yesus yang merupakan pelaku utama dan satu-satunya yang ditetapkan Allah untuk dapat melakukan karya pembebasan umat Allah. Ia telah mati dan sungguh telah bangkit. Kebangkitan-Nya disaksikan oleh murid-murid, dan hal itu mengobarkan sukacita di kalangan para murid. Salah satu sisi yang menarik dari situasi sebelum meyakini bahwa Yesus telah bangkit ialah perjalanan dua orang murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem. Dilihat dari aspek linguistik, kisah ini sarat makna simbolis.

Pertama: Dua orang itu tidak disebutkan namanya. Walaupun kemudian diidentifikasi bahwa salah seorang dari mereka adalah Kleopas, namun yang seorang lagi tetap tidak dikenal. Lukas, yang menulis Injil ini, sengaja membiarkan demikian sehingga pembaca pada gilirannya seakan-akan menemukan diri (pembaca) sendirilah yang sedang berjalan ke Emaus.

Kedua: Pergi ke sebuah kampung. Kampung adalah tempat yang terpencil, jauh dari pusat keramaian. Pergi ke sebuah kampung dapat berarti meninggalkan pusat keramaian lalu mengisolasi diri ke tempat yang terasing.

Ketiga: Emaus adalah nama kampung itu. Kata Emaus (bahasa Yunani/Latin: Emmausbahasa IbraniHamat) berarti "sumber air panas", yang berarti bukan air sejuk. Kampung Emaus tepat untuk menggambarkan suasana hati murid-murid sepeninggal Yesus: kebimbangan, kesedihan, keputusasaan, keraguan, ketakutan, rasa bersalah, kehilangan pegangan, ketidakpercayaan pada Kitab Suci, mencari jalan sendiri, dan sebagainya.

Keempat: Dari Yerusalem. Yerusalem dalam bahasa Ibrani dilafalkan ye-roo-sha-lai’-yeem; secara etimologis berasal dari kata yarah dan shalam. Yarah berarti: mengarahkan, menunjukkan, mengajar, dan mengalirkan; shalam berarti: damai sejahtera, menjadi damai, menjadi lengkap, tuntas, kuat, aman, sentosa dan kelimpahan. Jadi Yerusalem dapat diartikan “pengajaran damai sejahtera, arah menuju damai sejahtera”. Dengan demikian kata Yerusalem memiliki medan makna yang bertolak belakang dengan Emaus: Meninggalkan Yerusalem (ajaran damai sejahtera) berarti menuju Emaus (sumber kegelisahan/kegalauan).

Kelima: Sekitar Tujuh (7) mil jauhnya. Angka tujuh (7) adalah perlambang tak terhingga, sempurna, penuh, tak terhitung (bnd. Matius 18:22). Meninggalkan Yerusalem menuju Emaus sejauh 7 mil adalah suatu jarak yang terhitung jauhnya dari hadirat Allah, secara total meninggalkan/kehilangan damai sejahtera.

Yesus yang bangkit telah membimbing kedua murid itu kembali dari Emaus menuju ke Yerusalem. Hal itu dilakukan-Nya dengan menampakkan diri sambil menjelaskan makna ajaran Kitab Suci.

 

Pokok Pikiran Yang Dapat Dikembangkan
  1. Kebangkitan Kristus patut dirayakan. Mengapa? Karena kemenangan yang dihasilkan oleh kebangkitan Kristus melampaui kemenangan dan prestasi yang lain yang pernah dicapai manusia, pun yang dipandang sangat spektakuler. Oleh kebangkitan-Nya, manusia dibebaskan dari sumber segala belenggu yakni dosa.
  2. Seringkali kita tidak mampu menerima dan merayakan kemenangan Kristus. Apa sebabnya? Karena mata (hati/iman) kita terhalang oleh berbagai selubung, diantaranya:
    1. Selubung Kekecewaan (bnd.ay.17,21). Wajah Kleopas dan temannya muram kerena kecewa. Kekecewaan karena berbagai persoalan hidup akan menyebabkan kita sulit mengenali Tuhan. Demikianlah, manusia yang bermuram, yang hanya memikirkan masalah-masalah hidupnya tanpa melihat kebenaran lain, akan kesulitan mengenali Tuhan.
    2. Selubung Keraguan (bnd. ayat 38). Kita cenderung sering enggan mengakui rencana dan karya Allah sebelum Allah memberikan bukti fisik yang kasat mata.
    3. Selubung kebodohan atau kelambanan (ayat 25). Kita sering tidak memahami betapa bermaknanya kebangkitan Kristus bagi kehidupan kita. Walau Alkitab jelas menguraikan kebenaran Allah, namun kita cenderung mengedepankan pandangan dan pendirian kita sendiri (bnd. Sikap Orang Korintus dalam bacaan kedua, yang telah menerima Kristus tetapi tetap memelihara sifat dan kelakuan buruk).
  3. Ketidak-mampuan menerima karya Kristus, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya, membawa akibat dalam hidup kita. Apa akibatnya? “Meninggalkan Yerusalem menuju Emaus”. Jalan ke Emaus ialah suatu tempat yang sangat sunyi dan terasing di mana kita sering tidak menyadari, apalagi mengakui kepada diri kita sendiri, adanya kekacauan, keraguan dan ketakutan dalam diri kita. Kita merasa seakan diri kita “baik-baik saja” padahal kita telah meninggalkan kebenaran (ajaran damai sejahtera), Demikianlah, orang yang tidak menerima Kristus, hidupnya pasti akan bermuara pada ketidaktentraman/kesengsaraan.
  4. Bagaimana cara supaya kita dapat menerima kemenangan Kristus?
    1. Undang Yesus masuk dalam perjamuan dengan kita (ayat 29). Duduklah sehidangan dengannya. Hanya dengan mengundang Yesus masuk ke dalam hati kita, maka kita akan mengenal-Nya secara pribadi. Kedekatan dengan Yesus akan membuat kita dapat melihat kebenaran yang sesungguhnya.
    2. Baca kitab suci, karena hal itu dapat membuka (mata) hati kita. Keputusasaan, kekecewaan, hingga ketumpulan rohani dapat terjadi pada kita saat kita tidak mengenali apa yang Alkitab katakan. Melalui Alkitab, kita dimungkinkan bangkit dan kembali ke Yerusalem alias jalan menuju damai sejahtera (Luk. 24:33).
  5. Paskah (bahasa Ibrani Pesakh, berarti lewat atau Tuhan lewat): berjalan bersama Tuhan melewati jalan dari Emaus menuju Yerusalem

 

Aplikasi: Seluruh aspek kehidupan seorang Kristen adalah bagian dari perayaan dan pemberitaan peristiwa paskah. Sama seperti murid-murid yang hatinya berkobar-kobar memberitakan kebangkitan Kristus, demikianlah hendaknya kita. Pertanyaannya: apakah perayaan itu telah membawa kita dan orang-orang lain berjalan meninggalkan “Emaus” menuju “Yerusalem”? Rayakanlah Paskah dengan cara yang benar; jangan dengan cara yang tercela, yang mengaburkan makna Paskah. Ingatlah bahwa Kristus mati demi menyucikan kita dari noda cela, lalu membawa kita kembali ke dalam kehidupan yang penuh damai sejahtera.

Kategori Artikel

  • ReHaT

    Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja

  • Khotbah

    Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja

  • Laporan Kegiatan

    Laporan dan Rangkuman pelaksanaan kegiatan dan program kerja dari Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja

  • Humor Rohani

    Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber

  • Ilustrasi

    Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber

  • Teologi

    Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia

  • Literatur Digital

    Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.

  • Informasi Umum

    Memuat Informasi-informasi Umum dari BPS Gereja Toraja

  • Membangun Jemaat

    Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja